Selasa, 18 November 2008

PENGGUNAAN KOMIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA POKOK BAHASAN STOIKIOMETRI DAN PENGARUHNYA TERHADAP MINAT BELAJAR KIMIA SISWA SMA NEGERI 1 UNGGULAN INDRALAYA UTARA


BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel yaitu komik sebagai media pembelajaran sebagai variabel bebas dan minat belajar kimia siswa sebagai variabel terikat.

3.2 Definisi Operasional Variabel

Adapun definisi operasional variabel adalah :

  1. Minat belajar kimia siswa adalah perhatian, rasa senang, keaktifan (partisipasi dan kedisiplinan) siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar kimia .
  2. Komik sebagai media pembelajaran adalah gambar dalam bentuk kartun yang dilukiskan dalam bentuk cerita yang digunakan sebagai alat bantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara tahun pelajaran 2007/2008, yang terdiri dari 2 kelas dan berjumlah 67 siswa.

3.3.2 Sampel Penelitian

Sampel dalam penelitian ini sekaligus sebagai populasi penelitian, yaitu satu kelas kontrol dan satu kelas eksperimen.

3.4 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya pada semester genap tahun pelajaran 2007/2008 yang dilaksanakan pada bulan 22 Februari sampai dengan 19 maret 2008.

3.5 Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen semu. Metode ini digunakan untuk menyelidiki adanya pengaruh penggunaan komik sebagai media pembelajaran terhadap minat belajar kimia siswa. Data minat belajar kimia siswa diselidiki pada kelas eksperimen yang diberi perlakuan dan kelas kontrol yang tidak diberi perlakuan. Dalam penelitian ini, minat awal siswa untuk kedua kelas diasumsikan sama, karena kedua kelas memiliki karakteristik yang sama berdasarkan uji normalitas dan homogenitasnya. Sehingga rancangan penelitiannya sebagai berikut :

Tabel.3.1. Rancangan Penelitian

Kelompok

Minat siswa

(E)

Ye

(K)

Yk

Keterangan :

E : kelompok eksperimen

K : kelompok kontrol

Ye : Skor rata-rata minat belajar siswa untuk kelompok eksperimen

Yk : Skor rata-rata minat belajar siswa untuk kelompok kontrol

3.6 Langkah–langkah Penelitian

3.6.1 Persiapan

1. Pembuatan Rencana Pembelajaran.

2. Membuat komik yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran.

Komik yang digunakan dalam penelitian ini adalah komik yang dirancang sendiri oleh penulis. Adapun langkah–langkah dalam pembuatan komik ini sebagai berikut :

a. Membuat sinopsis, yaitu ringkasan cerita yang akan dibuat komik.

b. Membuat plot cerita, yaitu dengan membuat pembagian cerita yang memiliki alur seperti ini ; 1) setup masalah, 2) konflik, dan 3) penutup.

c. Membuat storyboard menurut panel yang akan dibuat.

3. Penilaian validitas komik.

Sebelum media komik digunakan dalam proses belajar mengajar, terlebih dahulu diadakan penilaian validitas isi komik. Penilaian validitas isi komik ini diperiksa oleh dosen Prodi kimia Unsri dan guru kimia SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara.

4. Membuat lembar observasi.

5. Merumuskan kisi–kisi tes.

6. Membuat lembar angket dan wawancara.

7. Membuat pertanyaan tes.

3.6.2 Pelaksanaan

1. Menentukan kelas yang akan digunakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan cara random atau acak.

2. Memberikan tes awal (pretes) kepada kedua kelas sebelum proses pembelajaran dilaksanakan.

3. Pada kelas eksperimen (Kelas X.A), media pembelajarannya menggunakan komik, sedangkan kelas kontrol tidak. Komik yang dibagikan pada kelas eksperimen berisi materi pelajaran yang akan dipelajari. Pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah dan diskusi informasi. Selama pembelajaran berlangsung baik pada kelas eksperimen dan kelas kontrol (Kelas X.B) dilakukan observasi oleh beberapa orang observer, untuk mendapatkan data mengenai minat belajar kimia siswa.

4. Setelah proses pembelajaran selesai, peneliti memberikan tes akhir (postes) pada kelas eksperimen dan kontrol.

3. Kedua kelas diberi angket dan masing-masing siswa diwawancara.

4. Menganalisis data yang diperoleh dari lembar observasi, tes, angket dan wawancara.

5. Mengumpulkan hasil penelitian.

3.7 Tekhnik Pengumpulan Data

3.7.1 Tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2002: 127). Tes yang digunakan pada penelitian ini dalam bentuk tes objektif berbentuk pilihan ganda (pre test dan post test).

3.7.2 Angket

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya (Arikunto, 2002: 128). Angket pada penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data minat setiap siswa terhadap penggunaan komik sebagai media pembelajarannya, data dari angket ini menjadi data pelengkap untuk mendukung data observasi minat belajar kimia siswa. Angket yang digunakan berbentuk check list, yang merupakan deretan pertanyaan dimana responden yang diteliti tinggal membubuhkan tanda cocok (Ö) pada tempat yang disediakan. Angket diberikan setelah siswa selesai mengikuti pembelajaran dengan menggunakan komik.

3.7.3 Wawancara

Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dan terwawancara (interviewer) (Arikunto, 2002: 132). Wawancara digunakan oleh peneliti untuk mengetahui minat belajar kimia siswa, baik siswa yang menggunakan komik sebagai media pembelajarannya maupun siswa yang tidak menggunakan komik sebagai media pembelajarannya. Data hasil wawancara pada penelitian ini, peneliti gunakan sebagai data pelengkap untuk menjelaskan minat belajar kimia siswa baik kelas kontrol maupun kelas eksperimen.

3.7.4 Observasi

Observasi adalah tekhnik yang dilakukan untuk menganalisis tingkah laku secara sistematis dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung, dengan menggunakan blanko–blanko (Purwanto, 2004: 149). Observasi digunakan untuk memperoleh data mengenai minat belajar kimia siswa selama pembelajaran dengan menggunakan media komik. Menurut Uno(2007: 100) minat dapat ditunjukkan melalui dimensi ekspresi dengan indikatornya antara lain : Adanya perhatian, adanya pilihan, adanya partisipasi dan adanya perasaan menyenangi. Berdasarkan pendapat beberapa ahli, minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas dan perhatian (Djaali, 2004: 121). Sehingga aspek minat yang diobservasi dalam penelitian ini adalah :

a. Indikator : Kedisiplinan dalam kelas selama pembelajaran kimia.

Deskriptor :

- Siswa tidak terlambat masuk kelas.

- Siswa tidak bermain – main selama pembelajaran berlangsung.

- Siswa berada dalam kelas selama pembelajaran berlangsung

b. Indikator : Perhatian siswa selama pembelajaran kimia.

Deskriptor :

- Siswa mencatat penjelasan guru.

- Siswa ikut serta dalam diskusi kelompok.

- Siswa membaca media pembelajaran yang diberikan.

c. Indikator : Tanggapan atau partisipasi siswa selama pembelajaran kimia.

Deskriptor :

- Siswa mengajukan pertanyaan atau komentar selama pembelajaran.

- Siswa berdiskusi dengan teman lain menggunakan media pembelajaran yang diberikan.

- Siswa menjawab pertanyaan guru.

d. Indikator : Adanya perasaan menyenangi selama pembelajaran.

Deskriptor :

- Siswa antusias dalam diskusi kelompok.

- Siswa menggunakan media pembelajaran yang diberikan selama diskusi.

- Siswa membahas contoh dan latihan soal pokok bahasan yang dipelajari.

3.8 Tekhnik Analisa Data

3.8.1 Analisa Data Tes

Nilai hasil tes belajar kimia siswa yang diperoleh pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol disusun dalam tabel distribusi frekuensi. Perhitungan nilai rata–rata masing–masing kelompok menggunakan rumus :

(Riduwan, 2004: 122)

a. Uji Validitas Tes

Untuk menguji Validitas tes digunakan rumus korelasi poduct moment:

rxy = (Riduwan, 2004: 98)

Kemudian dihitung dengan uji-t menggunakan rumus :

Dimana : r = koefisien korelasi hasil rhitung

n = jumlah responden

Jika harga thitung <>tabel pada taraf kepercayaan 95%, dengan derajat kebebasan (dk = n - 2 ) maka butir soal tersebut tidak valid, sebaliknya jika thitung > ttabel maka butir soal tersebut dikatakan valid.

b. Uji Reliabilitas Tes

Reliabilitas tes diuji dengan menggunakan menggunakan metode Alpha, yang rumusnya adalah:

(Riduwan, 2004: 115)

Keterangan : r11 = Nilai Reliabilitas

= jumlah varians skor tiap item

St = Varians total

k = Jumlah item

Nilai Pretes dan Postes Siswa dihitung dengan menggunakan rumus :

Skor =

Keterangan : B = Banyaknya butir soal yang dijawab benar

N = Banyaknya butir soal

Tabel. 3.2. Kriteria Penilaian Tes

Skor Tes

Kriteria

86 – 100

Sangat Baik

71 – 85

Baik

56 – 70

Cukup

41 – 55

Kurang

0 – 40

Sangat Kurang

(Arikunto, 2002)

3.8.2 Analisa Data Angket

Dalam penelitian ini angket yang digunakan menggunakan skala Likert. Pernyataan–pernyataan yang diberikan berbentuk pernyataan positif dan pernyataan negatif, yang diungkapkan dengan kata–kata sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Kriteria penyekorannya adalah:

Tabel.3.3. Kriteria Penyekoran Angket Siswa

Alternatif Jawaban

Pernyataan positif

( Item + )

Pernyataan negatif

( Item -)

Sangat Setuju

5

1

Setuju

4

2

Ragu - ragu

3

3

Tidak Setuju

2

4

Sangat Tidak Setuju

1

5

(Riduwan, 2004: 87)

Minat siswa dianalisis dengan menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh setiap siswa, dan menentukan letak dari jumlah skor yang diperoleh berdasarkan pada rentang sebagai berikut :

Tabel. 3.4 Predikat Minat Siswa Berdasarkan Jumlah Skor

Skor

Keterangan

20 – 40

Tidak Berminat

41 – 60

Kurang Berminat

61 – 80

Berminat

81 - 100

Sangat Berminat

Analisis jawaban pada angket yang telah diisi per item dilakukan dengan cara menghitung skor jawaban tiap item, dan mencari letak dari jumlah skor yang diperoleh berdasarkan rentang.

Skor jawaban per item = jumlah responden x skor jawaban

Persentase dari skor yang diperoleh, dianalisis dengan rumus :

Persentase = (Riduwan, 2004: 89)

3.8.3 Analisa Data Wawancara

Tekhnik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur, dimana peneliti terlebih dahulu membuat daftar pertanyaan yang akan diwawancarakan. Data yang diperoleh dari wawancara dianalisis untuk mendukung data hasil observasi minat belajar kimia siswa. Adapun rumus yang digunakan adalah:

Persentase jawaban =

3.8.4 Analisa Data Observasi

Analisa data observasi, data yang didapat melalui lembar observasi dihitung untuk mencari skor yang melambangkan minat siswa terhadap pelajaran kimia. Ketentuan pemberian skor pada lembar observasi diberikan dalam tabel dibawah ini:

Tabel 3.5 Skor Data Observasi

Skala penskoran

Deskriptor

1

2

3

4

Tidak satupun deskriptor tampak

Satu deskriptor tampak

Dua deskriptor tampak

Tiga deskriptor tampak

Skor minat belajar kimia masing-masing siswa adalah jumlah seluruh skor yang diperolehnya sesuai dengan deskriptor yang muncul pada saat pembelajaran berlangsung. Pemberian predikat dari aspek yang diamati menurut skor yang didapat dari lembar observasi, didasarkan pada rentang hasil modifikasi berikut:

Tabel 3.6 Predikat Minat Belajar Siswa

Rentang Skor

Predikat

12 – 21

Tidak berminat

22 – 30

Kurang berminat

31 – 39

Berminat

40 - 48

Sangat Berminat

Analisis skor observasi untuk tiap indikator minat dapat dihitung dengan rumus :

Skor observasi indikator minat = (Riduwan, 2004: 95)

Tabel 3.7 Kategori Indikator Minat Siswa

Skor

Kategori

0,81 – 1,00

0,61 – 0,80

0,41– 0,60

0,21 – 0,40

<0,20

Sangat tinggi

Tinggi

Cukup Tinggi

Rendah

Sangat Rendah

(Modifikasi Riduwan, 2004: 95)

a. Uji Normalitas

Tabel distribusi frekuensi yang dibuat diuji kenormalannya dengan menggunakan rumus kemencengan kurva :

(Sudjana, 2002: 109)

Keterangan : Km = Kemencengan kurva

Mo = Modus ( data yang memliki frekuensi terbanyak)

S = Simpangan baku

= Nilai rata – rata

b. Uji Homogenitas

Suatu varians dikatakan homogen jika Fhitung Ftabel. Untuk menguji homogenitas variasn digunakan rumus :

(Sugiyono, 2003: 167)

c.. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah Ho diterima atau ditolak, dengan syarat bahwa sampel telah terdistribusi normal. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah :

Ho : : Tidak Ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan komik sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan stoikiometri dengan minat belajar kimia siswa SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara.

Ha : : Ada pengaruh yang signifikan antara penggunaan komik sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan stoikiometri dengan minat belajar kimia siswa SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara.

Keterangan :

= Skor rata-rata minat belajar kimia siswa yang menggunakan komik sebagai media pembelajarannnya.

= Skor rata-rata minat belajar kimia siswa yang tidak menggunakan komik sebagai media pembelajarannnya.

Untuk menguji hipotesis pada penelitian ini digunakan uji-t pada taraf signifikan (= 0,05) atau taraf kepercayaan 95%. Dengan menggunakan rumus :

th = (Sudjana, 2002: 239)

S2 = (Sudjana, 2002: 239)

Keterangan :

1 = rata–rata skor observasi siswa kelas eksperimen

2 = rata–rata skor observasi siswa kelas kontrol

s1 = Simpangan baku kelas eksperimen

s2 = Simpangann baku kelas kontrol

n1 = jumlah siswa kelas eksperimen

n2 = jumlah siswa kelas kontrol

Dengan kriteria pengujian Ho diterima apabila thitung <>tabel dan tolak Ho apabila thitung > ttabel dengan derajat kebebasan (dk) = (n1 + n2 – 2), pada taraf signifikansi 5% ( = 0,05).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh penggunaan komik sebagai media pembelajaran terhadap minat belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara. Pelaksanaan penelitian ini berlangsung pada tanggal 22 Februari – 19 Maret 2008. Untuk melihat minat siswa dalam penelitian ini, pada kelas eksperimen digunakan komik sebagai media pembelajarannya dan kelas kontrol tidak. Minat siswa diperoleh dari data observasi sebagai data primer, dan juga digunakan angket, wawancara dan tes hasil belajar sebagai data sekunder.

Tahap dalam penelitian ini diawali dengan tahap persiapan, yaitu pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran, pembuatan komik yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran, pembuatan lembar observasi, pembuatan kisi–kisi angket, pembuatan kisi–kisi tes dan daftar pertanyaan untuk wawancara. Proses pembuatan komik diawali dengan pembuatan sinopsis yang berisikan ringkasan cerita yang akan dibuat komik, kemudian baru dibuat gambar-gambar komik. Komik yang dibuat lalu divalidasi untuk mengetahui kesesuaiannya dengan materi stoikiometri yang akan diajarkan dan kelayakannya untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Validitas isi komik ini diperiksa oleh Prof. Dr. Fuad Abd.Rachman, M.Pd yang merupakan salah satu dosen program studi pendidikan kimia dan Fadilah M.Zen, S.Pd yang merupakan guru mata pelajaran kimia SMAN 1 Unggulan Indralaya Utara tempat dilakukannya penelitian.

Adapun tahap pelaksanaan penelitian, adalah sebagai berikut:

1. Menentukan kelas yang akan digunakan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada penelitian ini jumlah sampel penelitian sama dengan jumlah populasi yaitu seluruh kelas X yang hanya berjumlah 2 kelas, sehingga yang menjadi kelas eksperimen adalah kelas X.A dan kelas kontrol adalah kelas X.B.

2. Memberikan tes awal (pretes) kepada masing-masing kelas (eksperimen dan kontrol) sebelum proses pembelajaran materi stoikiometri diberikan kepada siswa. Pretes ini diberikan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa menganai konsep stoikiometri, dari hasil pretes kedua kelas (kelas eksperimen dan kelas kontrol) ternyata masing–masing siswa dari kedua kelas, belum memiliki pengetahuan mengenai stoikiometri, yaitu dibuktikan dari nilai rata-rata pretesnya sebesar 24,12 untuk kelas eksperimen dan 22,02 untuk kelas kontrol, yang jika dilihat pada tabel 3.2 nilai tersebut masuk kedalam kriteria sangat kurang.

3. Pada kelas eksperimen (kelas X.A), peneliti memulai pembelajaran dengan memberikan apersepsi, kemudian membagikan komik sebagai media pembelajaran kepada masing–masing kelompok belajar yaitu terdapat 8 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang siswa dan masing–masing kelompok mendapatkan 2 buah komik. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk membaca komik yang diberikan, setelah itu peneliti memberikan penjelasan mengenai pokok bahasan yang mereka pelajari menggunakan komik secara singkat, lalu siswa diminta untuk mendiskusikan cara menyelesaikan contoh-contoh soal yang terdapat didalam komik secara berkelompok, beberapa kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka dan kelompok lain memberikan pertanyaan dan komentar, setelah itu siswa menyimpulkan hasil diskusi mereka.

Untuk tahap–tahap perlakuan pada kelas kontrol (kelas X.B), peneliti juga memberikan apersepsi, kemudian membagi siswa menjadi 8 kelompok kecil sehingga siswa duduk berdasarkan kelompok mereka masing-masing. Peneliti lalu meminta siswa untuk membaca buku paket kimia mereka pada halaman yang sesuai dengan pokok bahasan yang akan dibahas, setelah itu peneliti memberikan penjelasan mengenai pokok bahasan yang dipelajari secara singkat, lalu peneliti memberikan contoh-contoh soal yang sama dengan contoh soal pada kelas eksperimen untuk didiskusikan oleh siswa mengenai cara menyelesaikan contoh-contoh soal tersebut, setelah itu beberapa perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka dan kelompok yang lain diminta untuk memberikan pertanyaan atau komentar, kemudian proses pembelajaran diakhiri dengan dibuatnya kesimpulan oleh siswa.

Pembelajaran dilakukan dengan metode ceramah dan diskusi informasi dan observer mengobservasi minat siswa dengan menggunakan lembar observasi selama pembelajaran berlangsung, setiap observer mengobservasi 2 kelompok.

Langkah–langkah diatas dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan untuk 3 subpokok bahasan stoikiometri yaitu, konsep mol, rumus empiris dan rumus molekul, dan pereaksi pembatas.

4. Setelah 3 kali pertemuan proses belajar mengajar selesai, peneliti memberikan tes akhir (postes) kepada kedua kelas. Postes ini diberikan untuk mengetahui hasil belajar siswa yang menggunakan komik sebagai media pembelajarannya dan yang tidak menggunakan komik. Sehingga datanya dapat digunakan untuk mendukung data hasil observasi yang dilakukan mengenai pengaruh penggunaan komik terhadap minat belajar siswa.

5. Setelah postes diberikan peneliti membagikan angket dan melakukan wawancara kepada masing–masing siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.

6. Menganalisis data hasil observasi, tes, angket dan wawancara.

Dari pengolahan data observasi minat siswa, hasil belajar, angket dan wawancara yang peneliti lakukan di SMA Negeri 1 Unggulan Inderalaya Utara, hasil dan pembahasannya sebagai berikut:

4.2.1 Data Observasi

Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini divalidasi terlebih dahulu

oleh Prof. Dr. Fuad Abd.Rachman, M.Pd yang merupakan salah satu dosen pendidikan kimia yang berkompeten dibidangnya. Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, untuk mendapatkan data mengenai minat belajar kimia siswa yang menggunakan komik sebagai media pembelajarannya dan yang tidak menggunakan komik pada pokok bahasan stoikiometri. Dari hasil penelitian didapatkan data sebagai berikut :

Tabel. 4.1 Skor Observasi Minat Belajar Kimia Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Pertemuan

Jumlah Skor Observasi Seluruh Kelas

Eksperimen

Kontrol

I

465

365

II

453

384

III

495

418

Total

1413

1164

Rata-rata

41,588

35,576

Jumlah dari skor observasi masing–masing siswa untuk tiap pertemuan dijumlahkan dan disusun dalam tabel distribusi frekuensi untuk dihitung skor rata-rata dan analisis datanya dengan menggunakan rumus . Hasil perhitungannya dapat dilihat tabel 4.2 berikut ini :

Tabel.4.2 Hasil Analisis Data Observasi Minat Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Variabel

Kelas Eksperimen

Kelas Kontrol

41,588

35,576

S

5,732

7,194

Mo

45,318

38,192

n

34

33

- Mo

-3,73

-2,616

Km =

-0,651

-0,364

Berdasarkan analisis data yang diperoleh peneliti, didapatkan rata–rata skor observasi kelas eksperimen lebih besar dari kelas kontrol, yang dilanjutkan dengan uji normalitas data kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan rumus kemencengan kurva. Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah data observasi yang didapatkan dari masing-masing kelas (kelas eksperimen dan kelas kontrol) terdistribusi normal atau tidak. Terdistribusi normal maksudnya adalah jumlah siswa yang nilai observasinya dibawah nilai rata-rata sama dengan jumlah siswa yang nilai observasinya diatas rata-rata. Hasilnya didapatkan harga kemencengan kurva kelas kontrol -0,364 dan kelas eksperimen -0,651. Nilai Km tersebut > -1 dan <>

Hasil Uji homogenitas (pada lampiran) diperoleh harga F-hitung <>

Hipotesis yang dibuat diuji dengan uji-t dan didapatkan harga t-hitung sebesar 3,79, sedangkan t-tabel untuk taraf signifikansi 5% adalah 1,66 (analisis datanya dapat dilihat pada lampiran). Hasil ini menyatakan bahwa thitung>ttabel sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Dimana hipotesis statistik penelitian ini adalah Ho: dan Ha: . Analisis ini menyatakan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara minat belajar kimia siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, sehingga ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara penggunaan komik sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan stoikiometri terhdap minat belajar kimia siswa. Selain dari untuk menguji hipotesis, data observasi dianalisis untuk mengetahui minat belajar kimia siswa.

Dari observasi yang dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan, didapatkan jumlah skor observasi minat belajar kimia siswa yang menggunakan komik sebagai media pembelajaran (kelas eksperimen) dan yang tidak menggunakan komik sebagai media pembelajaran (kelas kontrol), sehingga dapat dibuat hubungan antara jumlah skor observasi minat siswa untuk tiap pertemuan yang dapat dilihat pada grafik 4.1 dibawah ini :

Dari grafik 4.1. Terlihat bahwa jumlah skor observasi kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Jumlah skor observasi tersebut didapatkan dari menjumlahkan skor observasi kedisiplinan, perhatian, tanggapan atau partisipasi dan rasa senang selama pembelajaran kimia. Ini menunjukkan bahwa minat kelas eksperimen yang menggunakan komik sebagai media pembelajaran lebih besar dibandingkan kelas kontrol yang tidak menggunakan komik. Walaupun untuk kelas eksperimen pada pertemuan kedua, jumlah skor observasi minatnya menurun. Hal ini disebabkan karena pada pertemuan kedua yaitu tanggal 29 Februari tersebut, ada beberapa orang siswa kelas eksperimen menjadi perwakilan sekolah dalam mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh kabupaten OI. Ini menyebabkan siswa yang menjadi perwakilan tersebut, sering keluar masuk kelas selama pembelajaran berlangsung. Sehingga skor observasi kedisiplinan, perhatian dan tanggapan atau partisipasi selama pembelajaran kimia mereka menurun.

Berdasarkan pendapat para ahli, minat erat hubungannya dengan perhatian, rasa senang dan keaktifan (Uno, 2004: 149). Sehingga dalam penelitian ini untuk menilai minat belajar kimia siswa digunakan 4 indikator yaitu : Perhatian selama pembelajaran, adanya perasaan menyenangi selama pembelajaran, tanggapan atau partisipasi siswa selama pembelajaran dan kedisiplinan siswa selama pembelajaran kimia. Untuk menilai keempat indikator tersebut, digunakan tiga deskriptor untuk tiap indikator minat.

Untuk mengetahui adanya perhatian, maka aspek yang diamati (deskriptornya) adalah siswa mencatat penjelasan guru, ikut serta dalam diskusi kelompok dan membaca media pembelajaran yang diberikan yaitu komik untuk kelas eksperimen dan buku paket untuk kelas kontrol. Dari hasil observasi didapatkan analisis seperti dalam tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Analisis Skor Observasi Perhatian Siswa.

Kelas

Total Skor

Skor Observasi

Kategori minat

Kontrol

321

0.827

Sangat Tinggi

Ekperimen

373

0,933

Sangat Tinggi

Pada tabel 4.3 total skor diperoleh dari menjumlah skor masing–masing siswa dalam satu kelas yang didapatkan dari tiga kali observasi. Dari skor observasi yang diperoleh pada kelas eksperimen lebih besar dibandingkan skor observasi kelas kontrol. Hal ini menyatakan bahwa perhatian siswa kelas eksperimen lebih besar dibandingkan kelas kontrol. Sehingga secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa penggunaan komik sebagai media pembelajaran menambah perhatian siswa dalam pembelajaran kimia. Walaupun untuk kriteria minatnya kelas kontrol dan kelas eksperimen sama–sama sangat tinggi, namun dari skor observasi kelas kontrol dan kelas eksperimen sangat jauh berbeda. Hal ini mungkin disebabkan karena yang menjadi sampel penelitian adalah siswa SMAN 1 Unggulan, yang siswanya merupakan siswa pilihan. Menurut Slameto (2003: 57) minat merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa adanya perhatian yang diberikan siswa selama permbelajaran kimia menyatakan bahwa mereka berminat terhadap pelajaran tersebut. Sama dengan Slameto, Winkel (1999: 188) menyatakan ”perhatian” sebagai minat momentan yaitu perasaan tertarik pada suatu topik yang sedang dibahas atau dipelajari. Sehingga adanya perhatian menunjukkan bahwa timbulnya minat. Selain adanya perhatian, minat juga diperlihatkan dengan adanya rasa senang dalam pembelajaran.

Untuk mengetahui adanya rasa senang, maka deskriptor yang diobservasi adalah siswa antusias dalam diskusi kelompok, menggunakan media pembelajaran (komik pada kelas eksperimen dan buku paket pada kelas kontrol) selama diskusi dan membahasan contoh soal pokok bahasan yang dipelajari. Dari analisis hasil observasi didapatkan data pada tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4.4 Analisis Skor Observasi Perasaan Senang Siswa.

Kelas

Total Skor

Skor Observasi

Kategori minat

Kontrol

258

0.665

Tinggi

Ekperimen

349

0.873

Sangat Tinggi

Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa perasaan senang yang dimiliki kelas eksperimen lebih besar dibandingkan kelas kontrol, yaitu dari skor observasi dan kategori minatnya. Ini menyatakan bahwa penggunaan komik sebagai media pembelajaran membuat siswa lebih berperasaan senang dalam belajar kimia. Perasaan senang tersebut mencerminkan adanya minat yang dimiliki siswa, dengan adanya perasaan senang siswa akan belajar tanpa disuruh. Hal ini didukung oleh Winkel(1999: 188) yang mengartikan minat sebagai kecenderungan subyek yang menetap, untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu. Menurut Slameto(2003: 57) kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Jadi siswa yang merasa senang dalam belajar kimia menggunakan komik berarti siswa tersebut berminat belajar kimia. Selain rasa senang minat erat kaitannya dengan keaktifan siswa.

Untuk mengobservasi keaktifan siswa, aspek yang diamati adalah kedisiplinan dalam kelas selama pembelajaran kimia dan tanggapan atau partisipasi siswa selama pembelajaran kimia. Deskriptor kedisiplinan yang diobservasi adalah siswa tidak terlambat masuk kelas, siswa tidak bermain–main selama pembelajaran dan siswa berada dalam kelas selama pembelajaran berlangsung. Deskriptor dari tanggapan atau partisipasi siswa selama pembelajaran kimia adalah siswa mengajukan pertanyaan atau komentar selama pembelajaran, siswa berdiskusi dengan teman lain menggunakan media pembelajaran yang diberikan dan siswa menjawab pertanyaan guru.

Adapun hasil analisis skor observasi kedisiplinan dan tanggapan atau partisipasi siswa berdasarkan deskriptornya didapatkan data dalam tabel 4.5 dan tabel 4.6 berikut ini :

Tabel 4.5 Analisis Skor Observasi Kedisiplinan Siswa

Kelas

Total Skor

Skor Observasi

Kategori minat

Kontrol

360

0.928

Sangat tinggi

Ekperimen

387

0.968

Sangat Tinggi

Tabel 4.6 Analisis Skor Observasi Tanggapan atau Partisipasi Siswa

Kelas

Total Skor

Skor Observasi

Kategori minat

Kontrol

225

0.58

Cukup Tinggi

Ekperimen

304

0.76

Tinggi

Tabel 4.5 dan tabel 4.6 memperlihatkan skor observasi keaktifan siswa yang terbagi menjadi kedisiplinan dan tanggapan atau partisipasi siswa. Dari kedua tabel tersebut jika dijumlahkan skor observasinya didapatkan bahwa keaktifan siswa kelas eksperimen lebih besar dibandingkan kelas kontrol. Ini menunjukkan bahwa terjadinya perbedaan keaktifan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Walaupun untuk skor kedisiplinan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak terlalu berbeda yang disebabkan karena, mereka adalah siswa unggulan yang memang terbiasa untuk disiplin. Namun dari skor partisipasi siswa terlihat bahwa partisipasi siswa kelas eksperimen lebih besar dibandingkan siswa kelas kontrol. Ini menyatakan bahwa jumlah siswa yang mengajukan pendapat atau komentar selama pembelajaran, yang berdiskusi dengan teman lain menggunakan media pembelajaran dan yang menjawab pertanyaan guru pada kelas eksperimen lebih banyak dari pada siswa kelas kontrol. Ini membuktikan bahwa penggunaan komik menambah keaktifan siswa dalam belajar kimia.

Hal ini didukung oleh Djaali(2004: 121) yang menyatakan bahwa minat dapat dimanifestasikan melalui partisispasi dalam suatu aktivitas. Sedangkan William James dalam Usman(2002: 27) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. Sehingga dapat dikatakan bahwa keaktifan yang besar menunjukkan minat belajar yang besar juga, yang dalam hal ini keaktifan kelas eksperimen lebih besar dari keaktifan kelas kontrol berarti minat belajar kimia siswa kelas eksperimen lebih besar dari minat belajar kimia kelas kontrol.

Berdasarkan indikator minat yang diobservasi (perhatian, rasa senang, tanggapan atau partisipasi dan kedisiplinan), dapat dibuat hubungan antara masing-masing indikator minat belajar kimia siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol, yang dapat dilihat pada grafik 4.2 berikut ini:

Dari grafik 4.2 dari keempat indikator minat dapat dilihat bahwa indikator minat (perhatian, perasaan senang, kedisiplinan dan tanggapan atau partisipasi) kelas eksperimen selalu lebih besar dibandingkan indikator minat kelas kotrol, sehingga dapat digeneralisasikan bahwa minat belajar kimia siswa kelas ekperimen yang menggunakan komik sebagai media pembelajarannya lebih tinggi dari pada minat belajar kimia siswa kelas kontrol. Dengan kata lain komik mempengaruhi minat belajar kimia siswa. Walaupun jika dilihat dari skor observasi untuk indikator perhatian yang lebih tinggi dibandingkan skor observasi untuk indikator perasaan senang dan tanggapan atau partisipasi siswa. Namun, ini dapat dijelaskan bahwa, siswa yang memberikan tanggapan atau partisipasi pasti memiliki perasaan senang dan memberikan perhatian selama pembelajaran kimia. Hal ini dapat peneliti katakan karena terjadi baik pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol. Untuk lebih jelasnya analisis data hasil observasi minat siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen, dapat dirangkum dalam tabel 4.7 dibawah ini:

Tabel 4.7 Rekapitulasi Minat Belajar Kimia Siswa Berdasarkan Indikator Minat


Kontrol

Eksperimen


Skor

Frekuensi

%

Frekuensi

%

Keterangan

40 – 48

9

27,273

24

70,588

Sangat berminat

31 – 39

14

42,424

9

26,471

Berminat

22 – 30

9

27,273

1

2.941

Kurang berminat

12 - 21

1

3.030

-

0

Tidak berminat

Jumlah

33

100

34

100


Dari tabel 4.7 terdapat 24 orang siswa kelas eksperimen dari 34 siswa yang minatnya masuk kedalam predikat sangat berminat, sedangkan hanya 9 orang siswa dari 33 siswa kelas kontrol yang minatnya masuk kedalam predikat sangat berminat. Ini menunjukkan bahwa minat belajar kimia untuk pokok bahasan stoikiometri siswa kelas eksperimen yang menggunakan komik sebagai media pembelajarannya lebih tinggi dari pada minat belajar kimia siswa kelas kontrol yang tidak menggunakan media komik sebagai media pembelajarannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa minat belajar kimia siswa pada pokok bahasan stoikiometri tersebut dipengaruhi oleh komik yang digunakan sebagai media pembelajaran pada kelas eksperimen. Hal ini didukung oleh James W. Brown dkk dalam Sudjana dan Rivai(2001: 12) yang menyatakan gambar merupakan perangkat pengajaran yang dapat menarik minat balajar siswa secara efektif. Selain dari observasi yang digunakan sebagai alat pengumpul data minat belajar kimia siswa, dalam penelitian ini digunakan juga tes, angket dan wawancara. Hasil tes, angket dan wawancara tersebut digunakan untuk mendukung data hasil observasi.

4.2.2 Data Tes

Tes yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk pilihan ganda. Uji validitas dan uji reliabilitas tes dilakukan di SMAN 3 Unggulan Kayu Agung. Hasil uji validitas 25 soal, didapatkan 15 soal yang valid dan 10 soal yang tidak valid, sehingga soal yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 15 soal. Selain uji validitas juga dilakukan uji reliabilitas soal menggunakan rumus metoda alpha yang hasilnya menyatakan bahwa soal yang digunakan reliabel (analisisnya dapat dilihat pada lampiran). Berdasarkan hasil tes yang diberikan, diperoleh hasil analisis untuk kelas eksperimen seperti dalam tabel 4.8 berikut ini :

Tabel 4.8 Analisa Hasil Tes Kelas Eksperimen

Nilai Tes

Frekuensi

Kriteria

Persentaase

86 - 100

6

Sangat Baik

17.647

71 - 85

10

Baik

29.412

56 - 70

11

Cukup

32.353

41 - 55

6

Kurang

17.647

0 - 40

1

Sangat Kurang

2.941

Nilai rata–rata siswa kelas eksperimen adalah = = 69,412. Nilai 69,412 ini termasuk kriteria cukup (tabel distribusi frekuensinya dapat dilihat pada lampiran). Ini menunjukkan bahwa rata-rata siswa kelas eksperimen sudah mencapai nilai ketuntasan belajar untuk pokok bahasan stoikiometri. Jumlah siswa yang mencapai nilai ketuntasan belajar adalah 24 orang siswa atau 70,588%. Untuk hasil analisis data tes kelas kontrol dapat dilihat dalam tabel 4.9 berikut ini:

Tabel 4.9 Analisa Hasil Tes Kelas Kontrol

Nilai Tes

Frekuensi

Kriteria

Persentase

86 - 100

1

Sangat Baik

2.941

71 - 85

5

Baik

14.706

56 - 70

12

Cukup

35.294

41 - 55

12

Kurang

35.294

0 - 40

2

Sangat Kurang

5.882

Nilai rata–rata siswa kelas kontrol adalah = = 59,794. Nilai tes 59,794 ini termasuk kriteria cukup (tabel distribusi frekuensinya dapat dilihat pada lampiran). Walaupun nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kriteria yang sama, namun jumlah siswa kelas eksperimen yang mendapatkan nilai diatas 70 lebih banyak (16 orang) dibandingkan siswa kelas kontrol yang hanya 6 orang. Demikian juga dengan jumlah siswa kelas kontrol yang mencapai nilai ketuntasan belajar hanya 11 orang siswa atau kurang dari 40%. Ini menunjukkan bahwa penggunaan komik sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa, sebab bahan pelajaran yang menarik minat siswa, lebih mudah dipelajari dan diingat, karena minat menambah aktivitas siswa untuk belajar (Slameto, 2003: 57). Siswa yang belajar menggunakan komik memberikan tanggapan atau partisipasi dan perhatian yang lebih besar terhadap pelajaran, karena mereka merasa senang selama pembelajaran. Sehingga dengan perhatian yang besar dan tanpa adanya paksaan untuk belajar membuat mereka dapat mengerjakan tes yang diberikan dengan baik. Minat dalam penelitian ini juga dipandang sebagai salah satu hasil belajar, yaitu dari aspek afektif, sehingga usaha untuk meningkatkan minat siswa secara tidak langsung diharapkan dapat meningkatkan nilai siswa (aspek kognitif). Setelah diberikan postes kepada kedua kelas, peneliti membagikan angket kepada siswa sebagai pendukung data observasi minat siswa.

4.2.3 Data Angket

Sebelum angket digunakan dalam penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas instrumen, yang dilakukan di SMAN 3 Unggulan Kayu Agung. Angket yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 20 item pernyataan. 20 item pernyataan tersebut mencakup dari 3 indikator minat sama seperti pada observasi yaitu perhatian, perasaan senang dan keaktifan serta ditambah satu indikator lagi yaitu ketertarikan. Adapun hasil analisis data angket kelas eksperimen dapat dilihat dalam tabel 4.10 berikut ini :

Tabel 4.10 Analisis Data Hasil Angket Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Skor Angket

Eksperimen

Kontrol

Keterangan

Frekuensi

%

Frekuensi

%

81 – 100

22

64,706

4

12,121

Sangat berminat

61 – 80

10

29,412

25

75,758

Berminat

41 – 60

2

5,882

4

12,121

Kurang berminat

20 - 40

0

0

0

0

Tidak berminat

Berdasarkan tabel 4.10 dapat dilihat bahwa 67,706% atau 22 orang siswa kelas eksperimen masuk dalam kriteria sangat berminat dalam belajar kimia pada pokok bahasan stoikiometri dengan menggunakan komik. Pada kelas kontrol hanya 12,121% atau 4 orang siswa yang berada pada kriteria sangat berminat dalam belajar kimia pada pokok bahasan stoikiometri dengan menggunakan buku paket. Dari hasil analisis data angket kelas eksperimen dan kelas kontrol tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media yang berbeda pada kelas eksperimen dan kelas kontrol mempengaruhi minat siswa dalam belajar kimia. Kelas eksperimen yang menggunakan komik sebagai media pembelajarannya, membuat 22 orang siswa pada kelas tersebut menjadi sangat berminat, sedangkan pada kelas kontrol lebih sedikit.

Untuk hasil analisis item-item pernyataan pada angket minat siswa yang sesuai dengan indikator minat (perhatian, rasa senang dan keaktifan) dapat dilihat pada lampiran. Hasil dari analisis item-item pernyataan tersebut menunjukkan bahwa skor item yang menyatakan perhatian, rasa senang dan keaktifan siswa kelas eksperimen lebih besar dari skor item siswa kelas kontrol. Hal ini berkesesuaian dan mendukung hasil analisis observasi minat belajar kimia siswa yang menyatakan bahwa komik yang digunakan sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan stoikiometri mempengaruhi minat belajar kimia siswa. Selain pemberian angket, wawancara juga dilakukan untuk mendukung data observasi yang didapat.

4.2.4 Data Wawancara

Wawancara dilakukan untuk mengetahui minat belajar kimia siswa setalah digunakannya komik sebagai media pembelajarannya dan pada siswa kelas kontrol untuk mengetahui pendapat mereka jika digunakannya komik dalam pembelajaran kimia. Data hasil wawancara yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat dalam tabel 4.11 dan tabel 4.12 berikut ini :

Tabel 4.11 Hasil Wawancara Siswa Kelas Eksperimen

No.

Pertanyaan

Jumlah Siswa

%

1.

Pernah membaca komik

33

97.059

2.

Senang membaca komik

26

76.471

3.

Buku pelajaran sudah menarik minat untuk dipelajari.

17

50

4.

Memilih pembelajaran kimia menggunakan komik.

28

82,353

5.

Komik menambah ketertarikan belajar kimia

28

82,353

6.

Komik kimia menambah perhatian terhadap pelajaran kimia.

28

82,353

7.

Senang dengan pelajaran kimia menggunakan komik

29

85,294

Tabel 4.12 Hasil Wawancara Siswa Kelas Kontrol

No.

Pertanyaan

Jumlah Siswa

%

1.

Pernah membaca komik

32

96,969

2.

Senang membaca komik

26

78,788

3.

Buku Pelajaran sudah menarik minat untuk dipelajari.

13

39,394

4.

Setuju jika menggunakan komik dalam pembelajaran kimia

24

72,727

5.

Komik akan menambah ketertarikan dalam belajar kimia

26

78,788

6.

Yakin akan senang dengan pelajaran kimia menggunakan komik

24

72,727

Interpretasi dari hasil wawancara yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Pertanyaan 1 : Lebih dari 96% siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pernah membaca komik, ini menunjukkan bahwa komik bukan bacaan yang asing lagi bagi mereka.

Pertanyaan 2 : Dari 33 orang siswa kelas eksperimen yang pernah membaca komik, yang merasa senang membaca komik ada 26 orang siswa. Sedangkan untuk kelas kontrol, dari 32 orang siswa yang pernah membaca komik yang merasa senang membaca komik juga ada 26 orang siswa. Ini menyatakan bahwa minat baca siswa terhadap komik tinggi. Alasan dari mereka senang membaca komik umumnya adalah karena mereka menganggap komik menarik dan ada gambar-gambar yang lucu, ada juga yang mengganggap membaca komik menambah inspirasi mereka. Sedangkan alasan siswa yang merasa tidak senang membaca komik umumnya adalah menganggap terlalu seperti anak-anak dan menghabiskan waktu.

Pertanyaan 3 : Ada 17 orang siswa kelas eksperimen dan 13 orang siswa kelas kontrol yang menganggap buku pelajaran yang mereka gunakan sudah menarik untuk dibaca sedangkan 37 orang siswa lainnya mengganggap buku pelajaran yang mereka gunakan belum menarik minat untuk dibaca, hal ini menyatakan bahwa lebih dari 55% siswa belum tertarik membaca sendiri buku pelajaran kimia yang digunakan. Sehingga kemungkinan mereka belajar terlebih dahulu dirumah sebelum pembelajaran kimia berlangsung sangat sedikit.

Pertanyaan 4 : Dari hasil wawancara tersebut 28 orang siswa kelas eksperimen lebih memilih digunakannya komik dalam pembelajaran kimia dikarenakan komik yang diberikan lebih sederhana dan menarik untuk dibaca karena adanya variasi gambar, dan 24 siswa kelas kontrol setuju jika dalam pembelajaran kimia digunakan komik, karena mereka menganggap komik dapat menarik perhatian mereka untuk belajar.

Pertanyaan 5, 6 dan 7 pada kelas eksperimen : Ada 28 orang siswa kelas eksperimen yang dengan adanya komik bertambah ketertarikan dan perhatian terhadap pelajaran kimia dan ada 29 orang siswa yang merasa senang belajar kimia menggunakan komik. Data ini berkesesuaian dengan data siswa yang memilih pembelajaran kimia menggunakan komik (pertanyaan no.4) sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan komik menambah ketertarikan, perhatian dan rasa senang siswa. Perhatian dan rasa senang merupakan indikator dari minat sehingga dengan kata lain penggunaan komik menambah minat siswa.

Pertanyaan 5 dan 6 pada kelas kontrol : Jumlah siswa yang merasa dengan penggunaan komik akan menambah ketertarikan belajar kimia adalah 26 orang siswa, dan yang menjawab yakin akan senang dengan pembelajaran kimia yang menggunakan komik berjumlah 24 orang siswa dengan alasan yang sama dengan pertanyaan no.4. Data ini juga sesuai dengan data siswa kelas kontrol yang setuju jika digunakan komik dalam pembelajaran kimia. Hal ini semakin menunjukkan bahwa komik dapat membuat siswa lebih tertarik dan senang selama belajar. Pertanyaan ini diberikan pada kelas kontrol hanya untuk menanyakan pendapat mereka jika komik digunakan dalam pembelajaran kimia.

Dari hasil wawancara ini, menunjukkan bahwa penggunaan komik dalam pembelajaran stoikiometri pada pokok bahasan stoikiometri menambah minat belajar siswa.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan data tes, angket dan wawancara, mendukung hasil analisis dan pembahasan data observasi mengenai pengaruh penggunaan komik terhadap minat belajar kimia siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa kelas yang menggunakan komik sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan stoikiometri memiliki minat belajar yang lebih besar dibandingkan kelas yang tidak menggunakan komik. Hal ini disebabkan karena peranan buku komik dalam proses pembelajaran adalah kemampuannya dalam menciptakan minat peserta didik, dimana komik memiliki sifat yang sederhana, jelas, mudah dan bersifat personal (Rohani, 1997: 78).

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan komik sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan stoikiometri mempengaruhi minat belajar kimia siswa SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara. Ini ditunjukkan dari hasil analisa data observasi menggunakan analisis uji-t, didapatkan thitung>ttabel yaitu 3,79 > 1,66 pada taraf kepercayaan 95%, maka Ho: ditolak dan Ha: diterima. Analisis ini menyatakan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antara minat belajar kimia siswa yang menggunakan komik sebagai media pembelajarannya dengan minat belajar kimia siswa yang tidak menggunakan komik sebagai media pembelajarannya. Sehingga ini menunjukkan adanya pengaruh penggunaan komik sebagai media pembelajaran terhadap minat belajar kimia siswa.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan kepada :

1. Guru kimia, untuk menggunakan media pembelajaran yang bervariasi, salah satunya adalah komik dalam upaya menarik minat siswa untuk belajar kimia.

2. Mahasiswa atau mahasiswi lainnya, untuk melakukan penelitian lajutan tentang penggunaan komik sebagai media pembelajaran dengan menggunakan metode lain, sehingga komik menjadi tidak asing lagi untuk digunakan sebagai media pembelajaran.


Tidak ada komentar: